Ntvnews.id, Jakarta - Diskusi sengit terjadi antara Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai dengan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar. Keduanya bahkan siap untuk berdebat di hadapan publik.
Ini buntut Zainal yang menyindir pernyataan Pigai di media soal pria asal Papua itu, yang paham HAM sejak usia lima tahun, sehingga tak mungkin pemahamannya keliru.
Zainal menyindir Pigai melalui unggahan akun media sosialnya.
"Sy cuma mau kutipkan Imam Al Ghazali, bahwa ada 4 jenis manusia:
1. Orang yang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu, inilah yang harus jadi panutan.
2. Orang yang tahu tapi dia tidak tahu bahwa dia tahu, ini orang yang perlu disadarkan.
3. Orang yang tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu, ini orang awam yang merasa perlu belajar dan wajib diajari
4. Orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Orang jenis ini sesat dan menyesatkan, perlu dihindari.
Kira-kira anda semua masuk yang mana? Tulis di komen ya," kata Zainal, disertai tangkapan layar berita tentang pernyataan Pigai tadi.
Baca Juga: Natalius Pigai Sebut Penolakan MBG Sama dengan Menentang Hak Asasi
Tak tinggal diam, Pigai membalas unggahan Zainal. Bukan cuma lima tahun, Pigai mengaku sejak lahir paham akan arti dari HAM secara esensi. Sebab sejak lahir, ia sudah dihadapkan dengan konflik bersenjata antara pasukan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan TNI.
"Jangankan 5 tahun. Sejak lahir, saya sudah hidup di tengah moncong senjata. Enarotali Paniai pusat perang antara OPM dan militer Indonesia," tutur Pigai.
"Di situ saya rasakan batas tipis antara hidup dan mati, baik dan jahat, bagaimana orang jerit, ratap dan rinti, haus dan lapar, adil dan tidak adil. Mana sakit dan senang. Itulah esensi dasar HAM universal yang dimaknai umat manusia termasuk saya," imbuhnya.
Di momen-momen itulah, kata Pigai dirinya memahami dasar dari HAM sejak dini. Pigai pun mengaku sejak lama memperjuangkan HAM. Pigai menyebut dirinya sudah membuktikan diri sebagai pejuang HAM yang berintegritas.
Baca Juga: Pigai Curhat ke DPR, Duit Pribadi Habis buat Bantu Korban Bencana
"Di situlah saya mengerti nilai fundamental tentang Hak Asasi Manusia. Perjalanan hidup yang membentuk karakter dan integritas saya selama puluhan tahun sebagai pembela orang-orang tertindas, pengungkap suara bagi mereka yang tak bersuara telah teruji dengan mengarungi badai dan gelombang, cacian, makian dan hinaan," tuturnya.
"Saya telah tunjukkan integritas saya sebagai penjaga kaum lemah (de oppreso liber). Dari seorang korban HAM hingga menjadi orang nomor 1 di bidang HAM di RI. Saya bekerja mencatat sejarah, menyelami sejarah dan menentukan sejarah HAM di republik ini," imbuhnya.
Pigai lantas menyindir titel guru besar dari Zainal. Menurut Pigai, Zainal tak pantas menyandang gelar itu.
"Sepengetahuan saya seorang Guru Besar memiliki tingkat pemahaman yang tinggi tentang esensi kehidupan, berfikir dalam bahasa sastra yang tinggi, pemahaman filosofis yg tinggi tetapi rupanya anda hanya Guru yang 'dibesar-besarkan'," jelasnya.
Tak berhenti, kedua belah pihak masih terus berargumentasi melalui media sosial. Bahkan Pigai mengaku siap berdebat di TV nasional disiarkan secara langsung. Zainal pun mengaku siap meladeni.
Menteri HAM Natalius Pigai saat diwawancarai di Gedung Kementerian HAM di Jakarta, Selasa 6 Desember 2025. (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi) (Antara)