Eks Presiden FIFA Sepp Blatter: Gianni Infantino Seperti Seorang Diktator

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Feb 2026, 12:00
thumbnail-author
Zaki Islami
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter (ANTARA)

Ntvnews.id, Jakarta - Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, melontarkan kritik tajam terhadap penerusnya, Gianni Infantino. Dalam wawancara dengan media Jerman, Bild, Blatter menyebut Infantino menjalankan FIFA layaknya seorang diktator serta menjalin kedekatan politik dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Blatter menilai FIFA saat ini tidak lagi berjalan secara kolektif sebagaimana yang ia klaim terjadi pada masa kepemimpinannya. Menurutnya, hampir seluruh keputusan penting kini berada di tangan presiden federasi.

“Apa itu FIFA saat ini? Semuanya bergantung pada presidennya, Infantino. FIFA adalah sebuah diktator. Dewan FIFA yang beranggotakan sekitar 40 orang tidak memiliki kekuatan dalam pengambilan keputusan,” ujar Blatter seperti dikutip pada Kamis.

Selain menyoroti gaya kepemimpinan Infantino, Blatter juga mengkritik hubungan dekat antara Presiden FIFA tersebut dengan Trump. Ia mengaitkannya dengan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang sebagian besar akan digelar di Amerika Serikat.

Donald Trump dan Gianni Infantino <b>(Instagram @gianni_infantino)</b> Donald Trump dan Gianni Infantino (Instagram @gianni_infantino)

Blatter menyebut pemberian penghargaan perdamaian kepada Trump oleh FIFA sebagai bentuk penghormatan semata karena status Amerika Serikat sebagai tuan rumah turnamen. Ia menilai Trump berpotensi memanfaatkan ajang tersebut untuk kepentingan politik.

“Trump akan mengatur pertunjukan publisitas. Dia sudah melakukannya. Untuk itu, dia membutuhkan teman barunya, Presiden FIFA Gianni Infantino. Kata ‘sekutu’ lebih tepat dibandingkan teman,” katanya.

Baca Juga: Potret Denny Landzaat Pakai Batik saat Kumpul Bareng Skuad Ajax Amsterdam

Lebih lanjut, Blatter menekankan bahwa penyelenggaraan Piala Dunia 2026 perlu mendapat perhatian serius, khususnya terkait stabilitas politik dan situasi keamanan di Amerika Serikat. Ia bahkan menyinggung insiden yang terjadi di Minneapolis sebagai sesuatu yang dinilainya lebih buruk dibanding berbagai kontroversi yang muncul saat Piala Dunia 2022 di Qatar.

“Saya berharap sepak bola bisa mengalahkan politik dan situasi kembali tenang ketika kompetisi dimulai di Amerika Serikat,” ucapnya.

Blatter sendiri bukan sosok yang lepas dari kontroversi selama memimpin FIFA. Pada September 2015, Sekretaris Jenderal FIFA saat itu, Jerome Valcke, lebih dulu dijatuhi sanksi skors.

Tak lama kemudian, Komite Etik FIFA menjatuhkan larangan sementara selama 90 hari kepada Blatter sebagai bagian dari penyelidikan yang juga melibatkan Michel Platini. Pada Desember 2015, Blatter dan Platini dijatuhi hukuman larangan beraktivitas di dunia sepak bola selama delapan tahun.

Namun, pada 2025, keduanya dinyatakan bebas dari tuduhan oleh pengadilan Swiss, menutup salah satu bab paling kontroversial dalam sejarah kepemimpinan FIFA.

x|close