Ntvnews.id, Washington D.C - Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengumumkan penahanan seorang mantan pilot jet tempur Angkatan Udara AS yang diduga memberikan pelatihan kepada personel militer China tanpa otorisasi resmi.
Gerald Brown diamankan di Indiana setelah kembali ke Amerika Serikat dari China, tempat ia menetap sejak Desember 2023, demikian keterangan United States Department of Justice.
Pria berusia 65 tahun itu dituding telah "bersekongkol dengan warga negara asing untuk memberikan pelatihan pesawat tempur kepada pilot-pilot di Angkatan Udara China tanpa lisensi yang diperlukan dari Departemen Luar Negeri AS," menurut pernyataan tersebut, seperti dilansir AFP, Jumat, 27 Februari 2026.
Direktur Federal Bureau of Investigation, Kash Patel, menulis di platform X: "Berita besar... FBI dan mitra-mitra kami telah menangkap seorang mantan Pilot Angkatan Udara AS yang diduga melatih para pilot di militer China."
Baca Juga: Riva Siahaan Divonis 9 Tahun Penjara Dalam Kasus Minyak Mentah
Brown memiliki rekam jejak 24 tahun di Angkatan Udara AS. Selama masa dinasnya, ia disebut pernah memimpin unit-unit sensitif yang menangani sistem pengiriman senjata nuklir, memimpin operasi tempur, serta bertugas sebagai instruktur pilot dan instruktur simulator untuk berbagai pesawat tempur dan pesawat serang.
Setelah pensiun pada 1996, ia bekerja sebagai pilot kargo. Belakangan, ia menjadi kontraktor pertahanan AS yang melatih pilot dalam pengoperasian jet tempur canggih seperti Fairchild Republic A-10 Thunderbolt II dan Lockheed Martin F-35 Lightning II.
Ilustrasi - Tahanan di dalam penjara. ANTARA/HO-Shutterstock/pri (Antara)
Ia diduga mulai membahas kontrak pada Agustus 2023 dengan Stephen Su Bin warga negara China yang pernah dipenjara di AS selama empat tahun sejak 2016 dalam kasus spionase lain lalu bertolak ke China pada Desember 2023 untuk memulai pelatihan tersebut.
"Pemerintah China terus mengeksploitasi keahlian anggota angkatan bersenjata AS saat ini dan mantan anggota untuk memodernisasi kemampuan militer China," ujar Roman Rozhavsky dari Divisi Kontra Intelijen dan Spionase FBI.
"Penangkapan ini berfungsi sebagai peringatan bahwa FBI dan mitra-mitra kami tidak akan berhenti sampai mereka meminta pertanggungjawaban siapa pun yang berkolaborasi dengan musuh kita untuk membahayakan anggota militer kita dan mengancam keamanan nasional kita," tambahnya.
Ilustrasi Penjara