Ntvnews.id, Jakarta - Volker Turk sebagai Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, memperingatkan bahwa dunia menjadi semakin berbahaya seiring meningkatnya jumlah konflik bersenjata, pengabaian hukum internasional, serta serangan terhadap warga sipil.
"Ancaman dan penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan perselisihan menjadi lebih sering dan dinormalisasi," kata Turk kepada Dewan Hak Asasi Manusia, seraya mencatat jumlah konflik bersenjata hampir berlipat ganda sejak 2010 menjadi sekitar 60. Dunia benar-benar menjadi tempat yang lebih berbahaya," tutur Volker Turk, dalam keterangannya, 28 Februari 2026.
Turk menyebutkan jika warga sipil akan menanggung risiko tertinggi, menggambarkan konflik sebagai "gurun hak asasi manusia," dan memperingatkan terhadap kembalinya kekerasan sebagai prinsip dalam urusan internasional.
Ia juga mengutip krisis besar, seperti yang terjadi di wilayah Sudan dan Ukraina hingga wilayah Palestina yang diduduki Israel dan Myanmar, sebagai contoh "pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional," termasuk serangan terhadap infrastruktur, konvoi kemanusiaan, dan penduduk sipil.
"Serangan terhadap warga sipil meningkat hampir sepertiga," ucapnya.
Dalam hal ini, Turk juga juga memperingatkan bahwa sejumlah pemimpin justru melemahkan lembaga-lembaga yang dirancang untuk menegakkan hukum dan akuntabilitas global.
"Sebaliknya, beberapa dari mereka menyerang lembaga-lembaga yang dirancang untuk menjaga keamanan kita – Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk Mahkamah Internasional; Mahkamah Pidana Internasional; Dewan ini dan mekanisme-mekanismenya," imbuh Turk.
Meskipun prospeknya suram, ia menegaskan bahwa hak asasi manusia tetap menjadi pusat stabilitas global dan kepercayaan publik.
"Singkatnya, orang-orang sangat menginginkan hak asasi manusia mereka," pungkasnya.
Wanita mengaku pengungsi di El Fasher Sudan (ANTARA)